Di tengah hiruk-pikuk Tokyo yang serba cepat, ada satu sosok yang gerakannya justru paling presisi: hentakan stick di pad, pola ritmik di kepala, dan visi besar tentang bagaimana marching arts bisa menyatukan budaya. Namanya Steve Ulicny — dan selama bertahun-tahun, hidupnya berputar di orbit satu hal: membuat dunia marching jadi lebih besar, lebih berani, dan lebih terhubung.
Dari Kent State ke Panggung Dunia
Sebelum berdiri di garis depan perkembangan marching di Asia, Steve adalah “anak kampus” yang tenggelam dalam dunia perkusi di Kent State University. Di sana ia mempelajari percussion performance dan music education, dua hal yang nantinya jadi fondasi cara ia mengajar dan memimpin.
Kent State bukan sekadar kampus; itu adalah salah satu program perkusi paling disegani di dunia. Di lingkungan yang isinya pemain dan pendidik kelas berat, Steve mengasah teknik, telinga, dan—yang nggak kalah penting—rasa tanggung jawab sebagai musisi yang juga seorang pendidik.
Di luar ruang latihan kampus, Steve membawa chops-nya ke level yang lebih tinggi bersama beberapa nama besar di dunia drum corps. Ia pernah bermain dengan Bluecoats Drum & Bugle Corps dan Star of Indiana, dua organisasi yang dikenal karena inovasi dan standar performa yang brutal ketatnya.
Pengalamannya nggak berhenti di sana. Steve juga terjun ke dunia penjurian, menjadi juri untuk DCI (Drum Corps International), WGI (Winter Guard International), dan BOA (Bands of America). Di posisi ini, dia bukan cuma menilai; dia mengamati, membedah, dan memahami bagaimana berbagai sistem pelatihan dan budaya musik membentuk performa di lapangan.
Di sela-sela semua itu, Steve tetap aktif sebagai musisi profesional: dari orkestra simfonik, jazz ensemble, hingga musik kamar, baik di Amerika Serikat maupun di Asia. Beragam panggung ini membentuk perspektif yang luas dan menjadikannya sosok yang bisa berbicara tentang groove, tone, hingga ensemble balance dengan kedalaman yang sama.
Mendarat di Jepang, Mengubah Peta Marching
Kalau banyak orang datang ke Jepang untuk anime, teknologi, atau ramen, Steve datang dengan misi lain: marching arts. Pelan tapi pasti, ia menjelma jadi salah satu figur kunci di balik berkembangnya dunia marching di Negeri Sakura.
Steve bekerja dekat dengan beberapa program paling serius dan ambisius di Jepang. Di antaranya:
- Yokohama Scouts Drum & Bugle Corps
- Shijonawate High School Band
- Berbagai ensemble dan drum corps lain seperti Jokers dan Tenri High School Band
Bukan cuma datang, workshop, lalu pulang; Steve benar-benar turun tangan. Dia memberikan klinik, workshop, dan pelatihan langsung, membangun disiplin dan pemahaman detail: dari teknik stick yang efisien, kualitas sound, metode latihan, hingga cara berpikir sebagai satu kesatuan ensemble.
Yang menarik, Steve bukan sekadar “meng-Amerikakan” marching di Jepang. Ia justru mengawinkan teknik marching perkusi ala Amerika dengan presisi dan tradisi musikal Jepang. Hasilnya? Performansi yang tetap punya DNA lokal, tapi dengan standar global.
Naikkan Standar, Bukan Sekadar Volume
Di banyak tempat, kehadiran Steve berarti satu hal: standar naik. Melalui sesi latihan maraton, feedback yang jujur, dan pendekatan edukasi yang sistematis, ia membantu sejumlah program di Jepang dan Asia meningkatkan kualitas permainan mereka, baik di level teknik maupun musikalitas.
Dia juga punya pandangan yang sangat praktis soal akses. Buat Steve, marching arts bukan cuma soal latihan keras, tapi juga soal punya alat yang tepat. Karena itu, ia aktif membantu menghadirkan instrumen dan aksesori perkusi kelas dunia ke tangan para pemain dan program di Asia. Bukan cuma snare atau bass drum, tapi keseluruhan ekosistem: stick, mallet, hardware, sampai detail kecil yang sering diabaikan.
Menghubungkan Musisi, Edukator, dan Industri
Di balik panggung dan lapangan, ada sisi lain dari Steve yang nggak kalah penting: dia adalah connector.
Di Jepang dan seluruh Asia, Steve berperan sebagai penghubung antara:
- Para pemain dan pelatih
- Sekolah dan organisasi marching
- Industri musik: distributor dan produsen instrumen
Ia mendukung berbagai festival dan event, termasuk All-Japan Marching Contest, serta berbagai acara lokal di Tokyo, Osaka, dan kota-kota lain di Asia. Di ruang-ruang seperti inilah, Steve membantu membuka jalur: mempertemukan kebutuhan lapangan dengan dukungan industri, membuat ide-ide baru punya tempat untuk tumbuh.
Lewat jejaring ini, Jepang—dan Asia secara umum—tidak lagi dipandang sekadar “pasar”, tapi sebagai kekuatan baru di panggung marching global. Para pemain di sini terpapar tradisi dan standar internasional, namun tetap diberi ruang untuk mengembangkan identitas mereka sendiri.
Menuju Jakarta Drum Corps International 2025
Perjalanan lintas benua itu sekarang membawanya lebih dekat ke Indonesia. Pada Desember 2025, Steve dijadwalkan menjadi salah satu juri di Jakarta Drum Corps International 2025, sebuah ajang yang mulai dilirik sebagai titik kumpul baru bagi komunitas marching di kawasan ini.
Bagi scene marching Indonesia, kehadiran sosok seperti Steve bukan cuma simbol prestise, tapi juga kesempatan emas. Pengalaman bertahun-tahun di DCI, WGI, dan BOA akan ia bawa langsung ke garis lomba di Jakarta: cara mendengar ensemble secara menyeluruh, cara membaca desain visual, hingga bagaimana menilai detail permainan perkusi yang sering luput dari telinga awam.
Buat para pemain dan pelatih, ini berarti satu hal: standar penilaian yang mereka hadapi adalah standar dunia. Setiap impact hit, setiap roll, setiap release akan “dibaca” oleh seseorang yang sudah melihat dan menilai ratusan, kalau bukan ribuan, penampilan dari berbagai negara dan budaya.
Dan kalau melihat track record-nya, Steve nggak akan sekadar duduk di panel juri. Besar kemungkinan ia akan terlibat dalam diskusi, berbagi pandangan dengan pelatih lokal, dan memperluas jaringan antara Indonesia, Jepang, dan komunitas marching internasional. Jakarta Drum Corps International 2025 pun berpotensi menjadi bukan cuma kompetisi, tapi titik temu: tempat ide, tradisi, dan ambisi saling bertabrakan dengan cara yang produktif.
D’Addario, Tokyo, dan Visi Lebih Luas
Hari ini, Steve menjabat sebagai Asia Regional Manager untuk D’Addario and Company, salah satu nama besar di dunia aksesori musik. Berbasis di Tokyo, posisinya ini memberinya sudut pandang strategis: ia bisa melihat apa yang terjadi di level grassroots—di ruang latihan kecil sekolah-sekolah—sekaligus memahami arah besar industri musik global.
Perannya di D’Addario membuatnya bisa mendorong lebih banyak kolaborasi, lebih banyak dukungan, dan lebih banyak proyek yang secara langsung berdampak ke marching arts di Asia. Dari program pendidikan, sponsor event, hingga pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan pemain di wilayah ini.
Lebih dari Sekadar Hitungan Ketukan
Pada akhirnya, cerita Steve Ulicny bukan cuma tentang paradiddle dan pola 7/8 di atas snare line. Ini cerita tentang bagaimana satu orang bisa menjadikan marching arts sebagai bahasa lintas budaya.
Dari Ohio ke Osaka, dari lapangan DCI ke hall-hall latihan di Tokyo, dan sebentar lagi ke panggung Jakarta Drum Corps International 2025, Steve membawa semangat yang sama: bahwa musik—apalagi yang dimainkan dengan disiplin dan kebersamaan setingkat marching ensemble—bisa jadi ruang di mana orang belajar menghargai detail, kerja keras, dan satu sama lain.
Dan di setiap downbeat yang jatuh tepat, di setiap impact moment yang bikin penonton merinding, ada sedikit jejak visi orang ini: menjadikan marching bukan cuma tontonan, tapi gerakan.


Leave a Reply