Di balik set timpani yang berkilau dan dentum marimba yang memecah keheningan panggung, berdiri satu nama yang selama lebih dari dua dekade telah menjadi poros dunia perkusi Thailand: Asst. Prof. Dr. Paopun Amnatham. Dengan rekam jejak yang bisa membuat siapa pun menelan ludah, Paopun bukan hanya seorang akademisi atau performer—dia adalah kekuatan kreatif yang merobek batas genre, budaya, dan generasi.
Tahun 2025 akan menjadi momen penting lain dalam kariernya. Pada Desember 2025, Paopun resmi didapuk sebagai salah satu juri Jakarta Drum Corps International (JDCI), event kolaboratif antara Indonesia Drum Corps Association (IDCA) dan Drum Corps International (DCI)—sebuah panggung yang akan mempertemukan marching arts terbaik dari kawasan dan dunia. Bagi para penggemar marching band Asia Tenggara, ini ibarat kehadiran bintang rock di festival terbesar musim ini.
Anak Bangkok yang Mendunia
Lahir pada 14 Mei 1981, Paopun mungkin tidak tumbuh dengan sorotan media atau glamor panggung rock, tetapi dunia musik klasik dan marching arts segera membentuk DNA seninya. Perjalanan akademisnya membawa dia dari Chulalongkorn University menuju jantung Eropa—Mozarteum University, Salzburg, salah satu pusat musik klasik paling bergengsi di dunia. Di sana ia menuntaskan dua gelar: Bachelor dan Master of Arts di bidang Perkusi, sebelum kembali ke Thailand dan meraih Ph.D. di Silpakorn University.
Jika kuliah di Salzburg terdengar seperti plot film seni yang elegan, tunggu sampai mengetahui bahwa pada tahun 2002 ia bergabung dengan Madison Scouts Drum & Bugle Corps, salah satu corps paling ikonik dalam sejarah DCI. Inilah yang membuat Paopun tidak hanya menguasai panggung konser, tetapi juga memahami DNA budaya drum corps dari sumbernya langsung: Amerika.
Karier yang Dibangun dengan Dentuman Presisi
Kini, Paopun adalah Assistant Professor di Silpakorn University sekaligus Principal Timpanist Royal Bangkok Symphony Orchestra. Di negara asalnya, ia adalah sosok sentral dalam dunia perkusi modern—dari orkestra, teater musikal, hingga marching arts.
Daftar panggung yang pernah ia jamah terdengar seperti tur dunia seorang musisi mapan:
- Phantom of the Opera (2013)
- Miss Saigon (2012)
- Philharmonie der Nationen (Jerman)
- Philharmonie Salzburg (Austria)
- Thailand Philharmonic Orchestra
Belum cukup? Simpan napas. Deretan penghargaan internasionalnya bisa membuat satu lembar CV penuh hanya dengan prestasi:
- 1st Prize Marimba Solo – DCM USA (2002)
- 3rd Prize Pendim International Percussion Competition, Bulgaria (2005)
- 3rd Prize International Marimba Competition, Austria (2009)
- Highest Score International Percussion Competition, Italy (2016)
- Research Award NRCT Thailand (2024)
- Outstanding Dissertation Award NRCT Thailand (2025)
Di Thailand, ia bahkan menerima pendanaan langsung dari National Research Council of Thailand (NRCT) untuk menciptakan komposisi dan materi pembelajaran marching percussion berskala nasional.
Komposer yang Tidak Bisa Diam
Paopun bukan musisi yang hanya “memainkan” musik—dia menciptakan dunia baru dari nada-nada perkusi. Karyanya dipentaskan dari Asia Tenggara hingga Amerika dan Eropa, menyentuh barisan marching ensemble, orkestra, hingga ruang kelas musik.
Beberapa karya terkenalnya termasuk:
- Rhapsody for Timpani and Bass Drum Solo
- Three Episodes for Timpani Solo
- Reflection for Marching Percussion
- Echo for Marching Percussion
Jika karya-karya itu terdengar seperti judul album eksperimental, itu karena musiknya memang sespontan dan seimajinatif itu.
Menuju Jakarta, Membawa Kelas Dunia
Ketika Jakarta Drum Corps International 2025 diumumkan sebagai kolaborasi resmi antara IDCA dan DCI, banyak yang bertanya siapa saja nama besar yang akan mengisi panel juri. Masuklah nama Paopun—pilihan yang tidak hanya masuk akal, tetapi juga memberi bobot internasional.
Bagi para performer Indonesia dan mancanegara, kehadirannya bukan sekadar formalitas. Ini adalah kesempatan untuk dinilai oleh seseorang yang telah menapak panggung DCI, orkestra internasional, kompetisi dunia, dan ruang akademis—kombinasi langka yang membuat perspektifnya sangat berharga.
JDCI 2025 bukan hanya kompetisi. Ini akan menjadi perayaan budaya marching arts Asia yang meledak-ledak, dan Paopun Amnatham adalah salah satu sosok yang akan menentukan sejarah di panggung itu.
Dengan pengaruh global, karisma akademis, dan pengalaman panggung yang tajam, Asst. Prof. Dr. Paopun Amnatham tidak hanya siap datang ke Jakarta—dia siap menabuh ritme baru dalam perkembangan marching arts di Asia Tenggara.


Leave a Reply